Saturday, February 13, 2016

Cerita Soal Kamp Tahanan Pengikut Freemasonry di Cimahi

Rumah Sakit Dustira yang pernah jadi kamp konsentrasi anggota Freemason pada jaman penjajahan Jepang. (Dok. www.rsdustira.com)


Kedatangan Jepang ke Hindia Belanda tahun 1942 adalah masa-masa kelam bagi tarekat rahasia Freemasonry. Jepang dengan sekutunya, Jerman memang dikenal sangat memusuhi Freemasonry.

Berita kemenangan Jepang di Pasifik membuat anggota mulai waspada. Cepat atau lambat, pasukan Dai Nippon diyakini akan masuk mengambil alih Hindia Belanda. 

Menurut Ryzki Wiryawan, penulis buku “Okultisme di Bandung Dulu: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemansory di Bandung”, anggota tarekat sudah mulai memusnahkan dokumen. Sasaran pemusnahan terutama dokumen yang memuat daftar anggota tarekat. 

Jejak Freemason di Bandung: Tak Cuma Perkumpulan Gelap
Pengurus Loji Sint Jan, rumah pemujaan perkumpulan Freemason di Bandung pada masa Hindia Belanda. Foto diambil dari buku Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917

Ketua Loji Sin Jan, JH Uhl bahkan sudah mengingatkan para anggotanya untuk siap-siap berperang dalam waktu lama. Bangunan loji juga sudah disiapkan untuk dipakai sebagai bangunan palang merah.

Kekhawatiran pada Jepang terbukti. Saat mereka masuk, semua loji langsung diminta tutup. Termasuk Loji Sint Jan.

Tak cuma menutup loji, tentara Jepang juga menangkapi para anggota tarekat. Mereka lantas dikirim ke kamp konsentrasi di Cimahi. Bangunan kamp konsentrasi tersebut sampai sekarang masih ada dan jadi sebuah Rumah Sakit Dustira di daerah Baros, Cimahi.

“Para anggota Freemason jadi tawanan nomor satu, paling berat siksaannya,” ujar Ryzki kepada CNN Indonesia.

Meski di tahanan, para anggota tarekat masih menyempatkan diri melakukan ritual. Kamp tahanan di Cimahi itu menurut Ryzki menjadi semacam loji darurat bagi anggota Freemasonry.

Tenyata bukan hanya anggota Sint Jan yang ditahan di Cimahi. Ada sekitar 300 anggota Freemason dari 21 loji di Hindia Belanda di tahan di sana. Seorang tenaga ahli rontgen di rumah sakit Prof Van Der Plaat memimpin pertemuan-pertemuan yang digelar anggota Freemasonry.

Dalam buku Dr. Theo Stevens, "Tarekat Mason Bebas Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962", pertemuan digelar di ruangan yang ditulis “Penyakit Menular” dalam bahasa Jepang. Dengan begitu, pertemuan antar anggota mason masih bisa dilakukan.

Loji darurat di Cimahi, kadang disebut Loji Lapangan dalam buku Stevens disebut sebagai De Beproeving. 

Sejumlah anggota dikabarkan meninggal di kamp penahanan ini. Bagi mereka yang meninggal, diusahakan, dimakamkan dengan cara masonik yakni dengan menempatkan sebuah jangka dan alat kayu pembuat sudut di tempat pemakaman.


Sumber :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks