Friday, July 12, 2013

Neo-Nazisme: Sebuah Ideologi yang Didasarkan pada Kekerasan dan Teror

Sementara kelompok-kelompok rasis dan anti-perbedaan di Amerika bersatu di bawah payung Ku Klux Klan, neo-Nazi mengambil peran serupa di Eropa. Rasisme Eropa dimulai dengan orang-orang keras kepala di Inggris, yang kemudian berubah menjadi gerakan neo-Nazi di tahun 1990-an. Ciri utama dari kelompok yang menamakan diri mereka sebagai neo-Nazi adalah, seperti juga Ku Klux Klan, mereka menyatakan keunggulan ras kulit putih dan menyerang orang-orang asing dan orang-orang yang tinggal di lingkungan miskin.
Gerakan neo-Nazi telah tumbuh semakin kuat dalam sepuluh tahun terakhir ini dan lingkup pengaruh mereka makin meluas. Anggota mereka saat ini berjumlah sekitar 70.000 orang. Neo-Nazi telah menetapkan berbagai sasaran mereka di negara-negara yang berbeda. Menurut sebuah penelitian, orang-orang Turki di Jerman, Gipsi di Hungaria, Slowakia dan Republik Ceko, orang-orang Asia di Inggris, orang-orang Afrika Utara di Prancis, dan orang-orang Timur Laut di Brazil, adalah di antara orang-orang yang sudah tercatat sebagai korban. Ciri-ciri menonjol neo-Nazi adalah kekerasan, kebencian, penggunaan ancaman, dan pengrusakan.

Menurut catatan resmi di Jerman, pada tahun 1997 saja terjadi 10.037 kali kejadian yang terkait dengan rasisme dan anti-ras lain. Angka ini pada tahun 2000 mencapai lebih dari 10.000 kali. Di Inggris, terjadi 10.982 kejadian yang terkait rasisme pada periode antara April dan September saja. Lebih dari separuh dari kejahatan ini meliputi ancaman, gangguan, dan intimidasi. Sisanya terdiri atas pembunuhan, penyerangan, pengrusakan rumah dan usaha, dan lain-lain.

Louis Beam dam William Pierce, pengemuka paham ekstrem kanan Amerika, saling mendukung pada posisi yang penting dalam gerakan neo-Nazi yang berkembang selama 1990-an. Pemikiran seperti "perlawanan tanpa pimpinan" dan "revolusi putih" yang dikemukakan kedua orang ini sekarang telah menguasai pemikiran dari gerakan neo-Nazi. Pada akar dari berbagai tindakan teror, seperti pengeboman, penjarahan, dan pengrusakan tempat-tempat kerja di berbagai negara di dunia, selalu dapat ditemukan pemikiran mereka tentang "perlawanan tanpa pimpinan". Menurut pemikiran mereka, tindakan neo-Nazi harus dilaksanakan atas dasar gerakan perorangan dan kelompok-kelompok kecil.


Buku Hunter dan The Turner Diaries yang ditulis oleh William Pierce telah dianggap sebagai sumber ilham utama di balik teror neo-Nazi. Selebaran A Practical Guide to Aryan Revolution oleh Gerakan Nasionalis Sosialis Prancis, yang mengambil buku-buku tersebut sebagai dasar teorinya, berisikan semua keterangan yang diperlukan seorang neo-Nazi. Selebaran ini merupakan buku panduan teroris yang rinci, yang terbagi dalam bab-bab yang berjudul seperti Metode Aksi Langsung Terselubung, Pelarian dan Persembunyian, Pembunuhan, Teror Bom, Sabotase, Perang Ras, Bagaimana Menciptakan Keadaan Revolusi, Peraturan Pertempuran: Aturan Tentang Perilaku Prajurit dari Tentara Pembebasan Bangsa Arya. [1] 

Buku The Turner Diaries dan Hunter, ditulis oleh William Pierce dengan nama samaran Andrew Mcdonald, salah seorang pemimpin National Alliance, merupakan sumber inspirasi yang penting bagi kalangan rasis di seluruh dunia. The Turner Diaries menceritakan bagaimana seorang rasis sendirian mengebom markas FBI. Pahlawan dalam buku Hunter membunuh orang Yahudi dan orang-orang minoritas lainnya.


Meskipun mereka tidak berperan giat dalam kelompok-kelompok ini, banyak orang yang justru mendukung fasisme dan terpengaruh oleh buku-buku ini. The Turner Diaries, misalnya, menggambarkan tentang bagaimana sebuah kelompok bawah tanah mengorganisir diri dalam melawan negara dan kegiatan apa yang mereka lakukan. Dalam pembelaannya, seorang pria bernama John William King, yang membunuh seorang pria berkulit hitam bernama James Byrd Jr. di tahun 1998 dengan mengikat dan menyeretnya di belakang mobil pick-up, dilaporkan telah menyatakan, "Kami akan memulai The Turner Diaries lebih dini." [2]

Menyusul pemboman Oklahoma 1993 oleh Timothy McVeigh, perhatian beralih kepada buku William Pierce, Hunter, di mana di dalamnya Pierce menggambarkan tindakan seorang pengebom yang bertindak sendirian. Pahlawan dalam buku ini tidak mendapat dukungan dari kelompok atau organisasi mana pun, tapi dengan sadar melaksanakan serangan teroris sendirian, seperti yang telah dilakukan oleh Timothy McVeigh. [3]

Pengebom Oklahoma adalah Seorang Neo-Nazi

Hingga 11 September 2001, serangan teroris terburuk yang pernah disaksikan orang Amerika adalah serangan pada Gedung Federal di Oklahoma oleh Timothy McVeigh, yang mengakibatkan 168 orang kehilangan nyawa, termasuk sejumlah anak-anak. Yang menarik dari pengeboman ini adalah Timothy McVeigh merupakan anggota dari sebuah aliran pemujaan sesat dan juga seorang neo-Nazi. 

McVeigh menyatakan bahwa pengeboman itu merupakan pembalasan atas David Koresh dan pengikutnya yang terbakar sampai mati di sebuah pertanian pada 1993. Menurut McVeigh, Koresh dan anggota aliran pemujaan tersebut tidaklah bunuh diri, tetapi dibunuh oleh negara Amerika sendiri. Karena itulah, dia memutuskan untuk membalas dendam terhadap negara dan berencana mengebom orang-orang yang bekerja atas nama negara di Gedung Federal. Tepat dua tahun setelah kematian Koresh dan pengikut aliran pemujaannya, pada peringatan tahun kedua kejadian itu, McVeigh dengan darah dingin memarkir kendaraan gandeng penuh bahan peledak di depan Gedung Federal dan selanjutnya telah tercatat dalam sejarah. Setelah serangan, McVeigh ditolong oleh seorang neo-Nazi lainnya, Terry Nichols. Kenyataan terpenting dari terungkapnya orang-orang yang membantu Nichols dan McVeigh sebelum penyerangan, yang membantu pengadaan bahan peledak dan mengetahui apa yang direncanakan McVeigh, adalah bahwa mereka semuanya pengikut neo-Nazi.

Sesaat sebelum hukuman matinya, McVeigh mengirimkan sebuah surat kepada The Buffalo News yang di dalamnya ia berkata tidak menyesali pengeboman itu, yang ia pandang sebagai sebuah "taktik yang sah" dalam perang pribadinya melawan pemerintahan federal. Serangan tersebut, akibat terganggunya jiwanya, sekali lagi merupakan petunjuk jelas tentang betapa hebat kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan yang sedang kita bahas terhadap perorangan maupun masyarakat. [4]

Pengeboman di Oklahoma oleh Timothy McVeigh menjadi sampul majalah Time. Gambar di halaman samping dan di sebelahnya memperlihatkan pemandangan setelah serangan

Seperti yang telah dapat kita ketahui dari banyak contoh, orang-orang yang terperangkap di dalam sistem Dajjal percaya bahwa adalah hal yang sangat dapat dibenarkan jika kita membedakan manusia atas dasar ras, bahasa, dan jenis kelamin, dan melakukan kebrutalan terhadap mereka. Bahkan, membeda-bedakan antarmasyarakat itu bisa berubah menjadi sejenis perbuatan membabi buta yang mengarah pada perang dan penghancuran. Orang-orang diserang hanya karena bahasa, agama atau ras mereka, dan tanpa sebab harus menderita berbagai bentuk penyiksaan. Salah satu penyebabnya, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an, adalah karena setan menampakkan "keganasan fanatik" sebagai hal yang benar dan terhormat. Kebanyakan dari kelompok-kelompok yang saat ini mendorong terorisme, atau yang melakukan tindakan sedemikian, telah terperangkap dalam godaan ini dan mendasarkan tindakannya pada pernyataan-pernyataan rasis. Jelaslah dari ayat-ayat berikut betapa besarnya hasutan-hasutan rasis tersebut melanggar prinsip-prinsip Islam.

"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Fat-h: 26)

Perbedaan yang ada pada manusia di dunia diciptakan agar manusia saling mengenal, untuk menjalin hubungan baik satu sama lain, bukan untuk bermusuhan satu dengan yang lainnya. Dalam Al-Qur`an, Allah telah mengungkapkan bahwa ideologi "ras unggul" yang menyebabkan suasana teror yang diinginkan oleh Dajjal, adalah sama sekali palsu. Hanya akhlaq yang lebih baik yang memberikan suatu keunggulan kepada masyarakat, budaya, atau pribadi. Memang, apa pun ras seseorang, apa pun bahasa yang dipakainya, atau apa pun warna kulit mereka, semua itu tidaklah menentukan. Mencoba mengungkit keunggulan atas dasar nilai-nilai tersebut di atas dan melabuhkan perasaan benci terhadap masyarakat lainnya, merupakan akibat dari paham-paham Dajjal. Berikut ini, Allah SWT berfirman bahwa perbedaan antar ras merupakan alat untuk menciptakan persahabatan dan pertukaran budaya, dan keunggulan hanya tergantung atas taqwa, dengan kata lain, atas iman dan akhlaq.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. al-Hujuraat : 13)


Sumber ; 

http://id.harunyahya.com/id/books/2417/TERORISME-RITUAL-SETAN/chapter/3511/Terorisme-Ritual-dajjal-
Referensi ;

[1] David Michaels, Neo Nazi Terrorism, International Policy Institute for Counter-Terrorism, 21 April 2000
[2] Paul Duggon, “From Beloved Son to Murder Suspect”, The Washington Post, 16 Februari 1999
[3] The Explosion of Hate The Growing Danger of The National Alliance
[4] (http://www.adl.org//explosion_of_hate/intro_turner.html)30. http://www.mayhem.net/Crime/mcveigh.html
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks